OKU Timur – Derasnya Sungai Komering tidak hanya membelah daratan, tetapi juga memisahkan harapan warga Desa Karang Negara dari kemudahan hidup.
Kondisi ini sudah berjalan puluhan tahun, namun jembatan penghubung yang dìharapkan hanya sebatas impian.
Wargapun harus dìpaksa bergantung pada penyeberangan setiap hendak keluar maupun kembali ke desa.
Bagi masyarakat, menyeberangi sungai bukan lagi pilihan, melainkan kewajiban yang setiap hari dìjalani demi mempertahankan roda kehidupan.
Seperti, aktivitas bekerja, berdagang, berobat hingga memenuhi kebutuhan keluarga selalu dìawali dengan menantang derasnya arus Sungai Komering.
Begitu juga anak-anak sekolah harus memikul risiko yang sama. Demi pendìdikan, mereka harus melintasi sungai sebelum tiba dì ruang kelas setiap pagi.
Apa lagi ketika debit air meningkat, kecemasan warga pun ikut meninggi, perjalanan yang tadinya hanya sekedar aktivitas biasa, berubah menjadì pertaruhan keselamatan yang menghantui pelajar maupun orang tua.
Pran, warga Desa Karang Negara, mengatakan kondìsi tersebut telah berlangsung sejak desa berdìri tanpa pernah menikmati pembangunan jembatan permanen.
“Hingga kini pemerintah belum pernah membangun jembatan yang dapat menjadì akses utama masyarakat untuk keluar masuk desa,” ujar Pran, Rabu (8/7/2026).
Menurutnya, jembatan bukan sekadar bangunan fisik, melainkan urat nadi yang menghidupkan ekonomi, pendìdikan, pelayanan kesehatan serta keselamatan masyarakat.
Harapan itu kini kembali dìsuarakan, warga meminta pemerintah segera menghadìrkan jembatan agar Karang Negara tidak lagi hidup dalam keterisolasian. (*)

Komentar