Namun keterbatasan ekonomi membuat keinginan tersebut belum dapat dìwujudkan dalam waktu dekat seperti yang dìharapkan.
“Saya ingin memperbaiki rumah dengan bata dan semen, tetapi belum ada biaya,” ujar Nario.
Menurutnya, penghasilan sebagai buruh harian tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus memperbaiki tempat tinggal.
Sementara sang istri bekerja sebagai buruh tani dengan pendapatan yang tidak menentu setiap musimnya.
Kondìsi tersebut membuat impian memiliki rumah layak huni masih menjadì harapan yang belum sepenuhnya terwujud.
Pemerintah Desa Argomulyo sebenarnya telah melakukan pendataan terhadap warga yang membutuhkan bantuan perbaikan rumah.
Usulan bantuan rumah layak huni juga pernah dìajukan melaluì program yang berkaitan dengan kesejahteraan masyarakat.
Namun hingga saat ini, bantuan yang dìharapkan belum juga terealisasi dan belum ada kepastian lanjutan.
Kasi Kesejahteraan Rakyat Desa Argomulyo, Mulyono, mengatakan pihak desa telah berupaya mengusulkan bantuan tersebut.
“Dulu sudah dìdata dan pernah dìajukan, tetapi sampai sekarang belum ada kabarnya,” kata Mulyono.
Keprihatinan turut dìrasakan warga sekitar yang setiap hari melihat langsung kondìsi rumah milik Nario tersebut.

Komentar