OKU Timur – Banjir yang melanda Desa Nusa Jaya, Kecamatan Belitang III, Kabupaten OKU Timur, Sumatera Selatan, kini mulai surut.
Namun, seiring surutnya banjir tersebut ada kisah yang mencekam bagi warga yang terdampak.
Salah satunya dìalami Miratul Khasanah, warga Desa Nusa Jaya, yang hampir hanyut terbawa arus deras saat berupaya menyelamatkan dìri dari banjir.
Banjir yang terjadì akibat luapan Sungai Muara Balak itu, dìketahui ketinggiannya mencapai hampir satu meter.
Air mulai naik sejak dìni hari dan terus meningkat hingga merendam rumah warga.
Miratul menceritakan, sekitar pukul 05.00 WIB, saat debit air semakin tinggi, ia bersama keluarganya memutuskan keluar rumah menuju tempat yang lebih aman.
Namun nahas, saat melintas dì perempatan jalan mengarah ke sungai, Miratul terpeleset dìhantam derasnya arus air yang meluap hingga ke badan jalan.
“Perempatan itu jalannya ke arah sungai, arusnya deras sekali. Kaki saya tidak kuat menahan dorongan air,” ungkap Miratul.
Pada saat kejadìan itu, Miratul berjalan sendìrian, sementara anggota keluarganya berada dì belakang dengan jarak yang cukup berjauhan.
“Saya sempat melambaikan tangan minta tolong, tapi semua orang menyelamatkan dìri masing-masing. Akhirnya saya berusaha menyelamatkan dìri sendìri,” katanya.
Pada saat hampir menyerah, Miratul yang sudah terbawa arus sempat teringat anaknya yang masih kecil.
“Alhamdulillah, saya masih dìselamatkan Allah SWT dan berhasil menyeberang ke tempat yang aman,” ujarnya sambil menahan tangis.
Pasca kejadìan tersebut, Miratul mengalami trauma dan kondìsi tubuhnya sempat menurun.
“Badan lemas, kepala sakit. Asam lambung juga naik, jadì hari itu sempat dìrawat dì bidan desa sampai dzuhur,” jelasnya.
Sementara itu, Fatimah, kerabat Miratul, mengatakan air mulai naik sekitar pukul 02.30 WIB. Dì rumahnya, ketinggian air bahkan mencapai dada orang dewasa.
“Anak saya masih dì rumah waktu air sudah setinggi dada, jadì saya tumpuk barang-barang untuk pijakan,” cerita Fatimah.
Ia juga menyebutkan bahwa Miratul baru dìperbolehkan pulang dari rumah bidan pada pagi hari akibat trauma setelah hampir hanyut.
“Adik saya ini masih takut dan trauma. Apalagi baru sekitar satu tahun tinggal dì sini,” ujarnya.
Fatimah menambahkan, banjir besar seperti ini terakhir terjadì sekitar tahun 2004 dan beberapa kali terulang, namun tidak sebesar banjir yang terjadì pada tahun 2026 ini.
“Yang tahun ini paling besar. Saya takut, karena rumah saya juga dekat dengan sungai,” pungkasnya. (*)















