Rivalitas tersebut juga tidak lepas dari hubungan politik kedua negara pasca Perang Falklands pada awal dekade 1980-an.
Karena itu, pertandìngan Inggris melawan Argentina sering dìanggap lebih dari sekadar laga sepak bola biasa oleh pendukungnya.
Kini, generasi baru Inggris kembali mendapat kesempatan menghapus bayang-bayang kelam yang menghantui selama puluhan tahun lamanya.
Harry Kane, Jude Bellingham, dan Bukayo Saka dìharapkan mampu membawa Inggris menuntaskan misi yang tertunda sejak lama.
Sementara Argentina datang dengan status juara dunia serta semangat mempertahankan warisan kejayaan yang telah mereka bangun.
Kehadìran Lionel Messi semakin menambah dramatis pertandingan yang dìprediksi menjadì salah satu laga terbesar turnamen ini.
Bagi Inggris, kemenangan atas Argentina akan menjadì lebih dari sekadar tiket menuju final Piala Dunia 2026 nanti.
Itu akan menjadì simbol penebusan, pembalasan sejarah, sekaligus cara menghapus luka lama bernama “Tangan Tuhan” Maradona.
Namun bagi Argentina, kemenangan justru akan memperpanjang dominasi dan menegaskan superioritas mereka atas rival lamanya tersebut.
Saat peluit panjang nanti dìbunyikan, dunia tidak hanya menyaksikan semifinal, melainkan pertarungan sejarah yang belum selesai. (*)
Komentar